- Semen Biasa (Ordinary Portland Cement)
- Semen Campur
- Semen Putih
Artikel Tentang Ilmu Bangunan Teknik Sipil dan Arsitektur. Meliputi Arsitektur, Struktur, Manajemen Konstruksi, Mechanical and Electrical, Plumbing, dan Infrastruktur. Serta artikel umum untuk menambah wawasan.
Showing posts with label Struktur. Show all posts
Showing posts with label Struktur. Show all posts
Koefisien Umur Beton
Beton akan mengalami pengerasan secara sempurna setelah 28 hari sehingga pada hari-hari sebelumnya akan mempunyai kuat tekan berbeda yang untuk mengetahuinya dapat menggunakan rumus tabel konversi beton umur 3 7 14 21 dan 28 hari. nilai ini biasanya diperlukan ketika hendak menetapkan waktu pembongkaran bekisting sehingga tidak perlu menunggu sampai 28 hari dan bekisting bisa digunakan untuk bagian pekerjaan beton yang lain. Nilai kuat tekan beton sebelum 28 hari juga dibuat oleh kontraktor skala besar untuk keperluan laporan kualitas beton kepada pemilik proyek bahwa beton yang digunakan dilapangan mempunyai kuat tekan minimal sama dengan perencanaan.
Cara Menghitung Kebutuhan Talang Air Hujan

Air hujan adalah air dari awan yang jatuh dipermukaan tanah. Air tersebut dialirkan kesaluran-saluran tertentu. Air hujan yang jatuh pada rumah tinggal atau komplek perummahan disalurkan melalui talang-talang-talang vertikal dengan diameter biasanya 3” (minimal) yang diteruskan ke saluran-saluran horisontal dengan kemiringan 0,5 - 1% dengan jarak terpendek menuju ke saluran terbuka lingkungan.
Dalam menghitung besar pipa pembuangan air hujan harus diketahui atap yang menampung air hujan tersebut dalam luasann m2.
Workabilitas Beton
Sifat ini merupakan ukuran dari tingkat kemudahan campuran untuk diaduk, diangkut, dituang dan dipadatkan tanpa menimbulkan pemisahan bahan susunan pembentuk beton. Taiji saji (1984) menguraikan bahwa sifat workabilitas beton segar ditandai dengan enam karakter yaitu : konsistensi, plasticity (plastisitas), placeability (kemudahan dituang), flowability (keenceran), finishability (kemudahan dirapikan), dan pumpability (kemudahan dipompa). Sedang Newman dalam Murdock (1999) menuliskan bahwa sekurang-kurangnya tiga sifat yang terpisah dalam mendefinisikan sifat ini, yaitu:
- Kompakbilitas, kemudahan beton dipadatkan
- Mobilitas, kemudahan beton mengalir dalam cetakan
- Stabilitas, kemampuan beton untuk tetap sebagai massa yang homogen, koheren dan stabil selama dikerjakan atau dipadatkan.
Tingkat kompakbilitas campuran tergantung pada nilai faktor air semennya. Semakin kecil nilai faktor air semen, adukan beton semakin kental dan kaku sehingga makin sulit untuk dipadatkan. Sebaliknya semakin besar nilai faktor air semen adukan beton semakin encer dan semakin sulit untuk mengikat agregat sehingga kekuatan beton yang dihasilkan semakin rendah.
Pengamatan workabilitas beton di lapangan pada umumnya dilakukan dengan slump test. Pengetesan ini merupakan petunjuk dari sifat mobilitas dan stabilitas beton. Neville (1981) menuliskan bahwa slump test bermanfaat untuk mengamati variasi keseragaman campuran. Pada beton biasa, pengujian slump dilakukan untuk mencatat konsistensi dalam satuan mm penurunan benda uji beton segar selama pengujian.
Selain itu workabilitas dapat juga diamati dengan mengukur faktor kepadatan, yaitu rasio antara berat aktual beton dalam silinder dengan berat beton dalam kondisi padat pada silinder yang sama. Faktor kepadatan memberikan indikasi bahwa tingkat kemampuan beton tersebut dipadatkan.
Konsep Penentuan Nilai Slump
Terdapat 2 hal yang perlu diperhatikan didalam pelaksanaan pengecoran beton,diantaranya adalah :
1. Faktor kekuatan
yang dalam hal ini merupakan kekuatan tekan karakteristik dari beton itu sendiri (fc’). Kekuatan tekan karakteristik adalah kekuatan tekan, dimana dari sejumlah besar hasil-hasil pemeriksaan benda uji, kemungkinan adanya kekuatan tekan yang kurang dari itu terbatas sampai 5% saja. (Peraturan Beton Bertulang Indonesia 1971 N.I.-2)
Faktor kekuatan ini berkorelasi dengan umur dari beton tersebut.
2. Faktor kelecakan / workability
Ini merupakan faktor yang terkait dengan kemudahan didalam pelaksanaan pekerjaan. Salah satu parameter yang bisa dilihat terkait dengan hal ini adalah nilai slump
Slump adalah nilai jatuhnya beton,diukur dari permukaan atas cast kerucut terpancung.
Desain Campuran Beton (Mix Design)
BETON K 100
Membuat 1 m3 beton mutu f’c = 7,4 MPa (K 100), slump (12 ± 2) cm, w/c = 0,87
Bahan:
- Portland cement 247,000 kg
- PB 869 kg
- KR (maksimum 30 mm) 999 kg
- Air 215 Liter
Tenaga kerja:
- Pekerja 1,650 OH
- Tukang batu 0,275 OH
- Kepala tukang 0,028 OH
- Mandor 0,083 OH
Tentang Tower Crane

Bagian-Bagian Tower Crane
Sebelum melangkah lebih jauh, ada baiknya kita mengetahui terlebih dahulu mengenai bagian-bagian dari sebuah tower crane.
Sebuah tower crane setidaknya terdiri dari 3 bagian:
1. Pondasi
Bagian ini berfungsi meneruskan beban dari tower crane ke tanah keras dan sebagai penahan agar tower crane tidak jatuh. Pada bagian inilah kaki tower crane dibaut pada pondasi beton yang masif dan besar.
2. Tiang/standard section
Bagian ini merupakan bagian vertikal dari tower crane yang bisa terus tumbuh seiring dengan kebutuhan proyek. Pada bagian ini terdapat tangga vertikal yang dibagi per section yang nantinya akan digunakan oleh operator untuk naik ke atas.
3. Unit yang berputar
Bagian ini terdiri dari 3 bagian:
a. Horizontal jib
Horizontal jib adalah bagian horizontal dari sebuah tower crane yang panjang dan berfungsi sebagai bagian pengangkat beban. Disebut pula sebagai hoisting jib atau working jib.
b. Machinery jib
Pada bagian inilah terdapat motor penggerak tower crane, alat elektronik dan sebuah beton masif yang berfungsi sebagai counter balance. Oleh karena itu sering pula disebut counter balance jib.
c. Operator’s cab
Tempat dimana operator bekerja. Cab ini haruslah memiliki jendela besar untuk memastikan operator memiliki pandangan penuh terhadap lokasi konstruksi. Mengingat letaknya yang tinggi, cab ini juga sebaiknya dilengkapi dengan AC dan perlengkapan lainnya.
Cara Menentukan Jenis Pondasi
Dalam pemilihan bentuk pondasi dan jenis pondasi yang memadahi, perlu diperhatikan beberapa hal yang berkaitan dengan pekerjaan pondasi tersebut. Hal ini disebabkan tidak semua jenis pondasi dapat dilaksanakan di semua tempat.(Misal penggunaan pondasi tiang pancang pada daerah padat penduduk tentu tidak tepat meskipun secara teknis telah memenuhi syarat).
Analisa Perhitungan Struktur Plat Beton
Analisa perhitungan pelat lantai dan pelat atap disesuaikan dengan beban yang dipikul tiap lantai dan bentuk pelat mengikuti bentuk denah balok. Dalam Tugas Akhir ini perhitungan mekanika pelat menggunakan cara diskreet Metode Finite Elementt dengan bantuan program SAP2000 versi 10.01
Struktur pelat seluruhnya menggunakan beton konvensional dengan material bahan menggunakan beton f’c = 25 Mpa = 250 kg/cm2, dan baja tulangan utama menggunakan fy = 240 Mpa = 2400 kg/cm2
Fungsi Shear Wall pada Banguna Bertingkat
Shear Wall adalah jenis Struktur dinding yang berbentuk Beton bertulang yang biasanya dimanfaatkan untuk perletakan Lift pada gedung-gedung tinggi. Struktur jenis ini digunakan pada bangunan yang memerlukan kekakuan dan ketahanan khusus.
Fungsi Shear Wall pada Gedung secara Umum:
Perencanaan Balok Beton Bertulang
Pembahasan mengenai balok beton bertulang saya sadur dari artikel Sanggapramana dengan penyesuaian sedikit. Silakan dipelajari bersama-sama.
Balok tanpa tulangan
Sifat beton yaitu kuat terhadap gaya tekan tetapi lemah terhadap gaya tarik. Oleh karena itu, beton dapat mengalami retak jika beban yang dipikulnya menimbulkan tegangan tarik yang melebihi kuat tariknya.
Subscribe to:
Posts (Atom)

